reborn, party, dream

Monday, November 09, 2009 | 1 Comments

People say, “life begin at 40.”
So how about 80? Is it mean as a reborn? It’s a bless, for sure.

Tidak banyak yang diberi kesempatan untuk menikmati hidup selama itu. Apalagi dikaruniai keluarga yang tumbuh dengan baik. Salah satu orang yang beruntung itu adalah salah satu kenalan Bu Haji. Inisialnya NR.

Hari Ahad (18/10) saya kembali diajak menemani beliau. Kali ini ke acara ulang tahun NR ke-80 di Gedung Misfalah. Saat mendengar mengenai undangan itu, saya langsung antusias untuk ikut. Jarang-jarang usia segitu bikin acara birthday party:)

Undangannya keren. Sayangnya saya lupa motret. Warnanya merah, bahannya campuran kain beludru dan hard paper. Ekslusif lah pokoknya. Undangannya juga terbatas untuk 2 orang. Ada juga undangan untuk 1 keluarga. Di situ keterangannya harus dibawa. Kenapa? Ternyata buat ditukar dengan souvenir dan nomor undian. *tanduk pemburu undian mulai mencuat*



Tempat acara ditata dengan nuansa warna merah dengan hiasan huruf kanji berwarna emas yang kalo diartikan mungkin artinya: Selamat Ulang Tahun. Sotoy ku deh.

Seperti acara-acara lain di Gorontalo dan Sulawesi Utara, acara dimulai setelah tamu-tamu undangan memenuhi lokasi acara. Kemudian yang punya hajatan masuk ke dalam ruangan. Masuklah NR ditemani anak-anak dan cucu-cucu. Suaminya sudah almarhum. NR sendiri terlihat anggun dan bugar. Ga nyangka lah kalo sudah 80 tahun. Cantik tauwwa.

Seperti apakah kue ultah ke-80? Seperti ini:



Besar, tinggi menjulang! Wuih…dibagikan se-RT juga cukup ji kayaknya. Trus satu persatu anak dan cucu menyuapi kue tart ke Oma NR sebagai tanda sayang. Aduh, jadi mo ketawa. Bukan…bukan mo ketawain NR atau keluarganya. Acara mereka keren dan (ini yang penting) makanannya enak dan banyak.

Saya ketawa membayangkan kalo Olo atau Ama yang ulang tahun dan acaranya disetting seperti itu. Pertama, panggungnya tidak bakalan cukup untuk menampung seluruh keluarga. Kedua, Olo/Ama bakal eneg dengan kue tart. Ada 12 anak, 24 cucu, dan 5 cicit (tojeng ka, saya hitung satu-satu sebelum saya tulis di sini) yang akan menyuapkan kue tart. Huahaha…

Oke, kembali ke jalan yang benar. Setelah acara potong kue, narasi dan foto-foto perjalan hidup (sebagian foto liburan di luar negeri, seperti: Cina, Hongkong, Belanda) hadiah lagu dari cucu-cucu, doa, dan makan malam, pesta ditutup dengan penarikan undian.



Hadiahnya banyak. Mulai dari kipas angin sampai kulkas. Ck…ck…



Sayang, nomor undiannya Bu Haji tidak naik. Kodong, kertas ungu punyanya Bu Haji tidak disebut-sebut. Hiks. Sabar ya Bu, semoga beruntung di ulang tahun berikutnya.



Waktu saya mengabarkan via pesan singkat tentang ultah ini ke DJ dan bertanya apakah dia akan datang kalo nanti saya ultah ke-80, dia balas begini:
Insya Allah i Wil come wt my own helicopter…

Wah, percaya. Saya sangat percaya karena dia adalah seseorang yang berani bermimpi dan bekerja keras untuk membuatnya jadi nyata. Buktinya, tahun ini dia berhasil mewujudkan sebagian besar resolusinya. Congratz for the upcoming Silverox!

Trus nanti bagaimana setting ultahmu yang ke-80, Meg?

Karena DJ mo datang pake helikopter, jadi saya pikir bagusnya bikin pesta di kebun belakang rumah. Di sana ada helipad. Pakaian santai. Makan makanan yang dipanggang karena saya masih dalam kondisi sehat bugar. Kalo di kebun, cucu dan cicit juga bebas main, lari-lari, manjat pohon. Pulangnya setiap tamu saya kasih keranjang rotan. Mereka bebas isi keranjang itu dengan buah-buahan yang ada di kebunku. Apa saja yang tumbuh di situ. Tomat, apel, strawberi, mangga, durian, melon, cabe, jambu… Pokoknya apa saja. Ternyata, kelak saya berhasil membeli Taman Buah Mekarsari. Hohoho…indahnya. Hihihi…

Ahh…senangnya mengkhayal:)

FYI, tanggal 16 sampai 26 November nanti Bu Haji minta saya jaga rumah. Mo liburan ke luar negeri, katanya. Saya langsung nyeletuk, “Mo bikin stok foto liburan untuk dipasang di ultah ke-80 kayak Ci’ NR, ya Bu?”
:p

selamat datang kedewasaan

Monday, November 09, 2009 | 0 Comments

Pada suatu malam minggu (17/10) yang kelabu, saat ta’loko di kamar dan siaran televisi lagi kabur, Bu Haji mengajak pergi ke pesta. Party? Pesta ajeb-ajeb? Hehe…in your dream, Meg.

Banyak jenis pesta. Kali ini pesta Beat (baca: bey’at). Semacam acara syukuran untuk anak-anak yang memasuki usia dewasa. Yang cewek mulai haid, yang cowok mulai suka nonton bokep sudah dikhitan.



Pertanyaan klasik setiap ada acara: pakai baju apa? Baru kali ini ke acara seperti itu. Tapi feeling-ku bilang mesti cuma acara syukuran, mesti sedikit bling-bling. Ini Gorontalo, Uti! Masalahnya adalah, koleksi baju di lemari tidak ada yang bermain di arena sedang-sedang. Kalau santai, ya potongannya santai banget. Kalo resmi, ya jatuhnya untuk ke pesta kawinan. Akhirnya pake blus, jeans, selop, dan clutch.

Eng ing eng….ternyata sampai di sana suasananya kaya’ pesta kawinan. Lengkap dengan pelaminan (kalo di Makassar namanya: lamming). Orang-orang yang datang juga kostumnya resmi kayak mo ke kawinan. Diriku bagai Luna Maya Upik Abu di tengah pesta dansa. Hehe…plis deh jangan lebay (nyanyi ala T2).

About

read, and you will know