pilih-pilih pekerjaan

Friday, May 22, 2009 | 3 Comments

Thanks God, it's Friday. Tomorrow is a holiday (again:)

Memang enak rasanya kalo libur. Setelah kerja membanting tulang jari di keyboard. Capek? Iya lah. Namanya saja kerja. Pasti mi ada capeknya. Senang? Iya juga. Beberapa hari lagi mo gajian. Hehe.

Capek dan senang itu dua sisi dari pekerjaan. Satu paket, tidak bisa dipisahkan. Kalo cuma capek, itu sama dengan penyiksaan. Kalo cuma senang, itu berarti hobi.

Trus kalo pekerjaan yang sekarang lebih banyak capeknya daripada senangnya? Ya tergantung. Ada beberapa opsi yang bisa dipilih:
1. Bertahan
2. Keluar dan berganti pekerjaan
3. Keluar dan berwiraswasta
4. Keluar dan mengambil pensiun dini
5. Keluar tanpa pesangon dan tidak bekerja sama sekali

Pilih yang mana? Kalo saya, lihat-lihat sikon dulu. Yang penting ada pekerjaan. Itu berarti saya tidak memilih opsi 4 dan 5. Untuk opsi 3, belum pernah diaplikasikan.

Cerita opsi 1

Pekerjaannya sesuai dengan minat saya. Kalo bukan karena jam kerja yang sangat tidak teratur dan cenderung sampai dinihari (terutama pas weekend), plus karir yang jalan di tempat, saya pasti masih kerja di sana.

Awalnya menyenangkan karena bisa kerja sambil kuliah. Bahkan saat kelar kuliah pun, saya masih sempat di sana selama beberapa bulan sementara pihak kantor belum tau kalo saya sudah lulus kuliah. Setelah pihak kantor tahu, saya pikir bakal ada perbaikan dari sisi posisi dan remunerasi. Ternyata stagnan.

Tapi saya masih bertahan. Walaupun dari sisi materi saya tidak puas, tapi dari sisi batin saya sangat puas. Saya senang bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Saya banyak belajar di sini, secara ini adalah kerjaan formal saya yang pertama.

Karena masih berstatus magang selama 2 tahun(!) saya merasa sudah waktunya untuk bergerak ke arah yang lebih baik. Mulailah saya bergerilya mencari pekerjaan baru sambil tetap bekerja di tempat itu. Akhirnya saya memilih opsi 2.

Cerita opsi 2

Surat pengunduran diri saya serahkan ke atasan sehari sebelum saya keluar. Itu pas lagi deadline, tengah malam. Di luar perkiraan, bos sangat mendukung keputusan saya. Yang bikin terharu adalah dia berpesan agar terus memelihara silaturahim dengan orang-orang di kantor itu.

Sip bos! Sampai sekarang saya masih sering keep in touch dengan teman-teman di tempat kerja yang pertama.

Oya, sebelum resign, saya juga sudah mempersiapkan list klien dan agenda kegiatan yang ada dalam tanggung jawab saya untuk diserahkan ke atasan langsung (AL). Sebelumnya saya pun sudah berbicara langsung dengan AL. She's fine with my decision. Jadi saya tidak kabur begitu saja walaupun surat pengunduran diri saya serahkan di detik-detik terakhir.

Di tempat kedua saya bekerja sesuai dengan background pendidikan. Di sini saya merasa lebih banyak mendapat ilmu daripada di bangku kuliah. Saya mengaplikasikan teori-teori yang dulu cuma sekilas saya dengar di dalam kelas.

Tantangannya lebih besar karena ini adalah perusahaan multinasional. Ekspektasi user sangat tinggi. Di sisi lain klien pun menuntut perhatian yang besar.

Sulit awalnya. Tapi pepatah learning by doing memang ada benarnya. Sekali dua memang salah (sering malah, termasuk nabrakin mobil dinas ke beberapa tempat terlarang, such as: mobil kapolres. hehe) tapi lama-lama ritmenya juga dapat.

Jadi saya bertahan di sini? Tidak. Saya resign. Lagi. Kenapa? Karena saya merasa sudah tidak cocok lagi. Hitung-hitungan antara jam kerja, tanggung jawab, dan remunerasi tidak cocok. Selain itu ada klausa dalam perjanjian kerjasama yang tidak ditepati oleh perusahaan.

Kembali saya mengambil opsi 2. Dan di sinilah saya, di tempat kerja saya sekarang. Di sini saya merasa cocok. Tidak lebih dan tidak kurang.

****

Apa yang saya cari dari sebuah pekerjaan? Duit, sudah pasti. Kalo ada yang bilang kerja tanpa mikir duit, itu nonsense. Kecuali turunan konglomerat yang mungkin cuma mengisi waktu luang atau sekadar menekuni bisnis.

Kalo sudah ada duit, lalu mikir apa yang bisa didapat dengan duit di tangan. Percuma punya banyak duit tapi tidak punya waktu untuk diri sendiri (apalagi buat orang lain).

Intinya keseimbangan. Kalo sudah dapat itu, alhamdulillah.

****

Beberapa teman ada yang bercerita soal tempat kerja mereka. Biasa, curhat mode:ON.

Ada yang cerita kalo job desc dia = job desc orang sekantor. Ya merencanakan program, eksekusi, sampai evaluasi. Semua dikerjakan sendiri sebagai perwakilan perusahaan consumer goods di suatu kota di ujung timur negeri ini.

"Pantasan banyak gajimu. Gajimu itu himpunan gaji orang sekantor di tempat kerjamu yang lama," tanggapan saya mendengar ceritanya. Dia cuma mesem-mesem. Iya tauwa yang banyak mi gajinya:D

Ada yang gemes karena tidak dapat kenaikan gaji berkala. Yah, kadang kebijakan perusahaan tidak bijak di mata karyawan.

Ada juga yang cuma mengeluh terus. Yang ini gawat. Jangan sampai mengeluhkan hak-hak yang (dianggap) mestinya didapat, malah melupakan tanggung jawab. Sekali lagi, keseimbangan. Kalo menuntut hak, pastikan kewajiban juga dilaksanakan.

****

Buat teman-temanku yang sedang resah dan berkeluh-kesah, ayo ingat kembali apa alasan menerima pekerjaan yang sekarang. Belum atau tidak terjawab? Mungkin sekarang saat yang tepat untuk mencari tempat kerja yang sejalan dengan motivasi.

Kalo sudah stuck dan merasa punya modal (di sini bukan cuma duit, relasi pun bisa dihitung sebagai modal usaha), silahkan berwiraswasta. Syukur-syukur kalo bisa memberi lapangan kerja kepada orang lain.

Yang sudah cukup puas melanglang buana di dunia kerja-mengerja *bahasa apa ini? hihi* dan merasa sudah saatnya menikmati apa yang sudah didapat, ingin menikmati hasilnya secara maksimal mumpung masih muda....kenapa tidak memilih opsi 4?

Opsi 5 juga boleh. Karena tidak semuanya bisa dibeli dengan duit.

Semuanya oke. Asal dipikirkan secara matang dan bukan tindakan impulsif semata.

Selamat mikir. Semoga tercerahkan.

Have a nice weekend, everybody:)

jabe

Tuesday, May 19, 2009 | 0 Comments

sedikit-sedikit nangis
sebentar-sebentar ngambek
terpaksa nahan pipis
dengar kita ma'jabe

jangan mi jabe
nanti bibir ta memble
senyum-senyum meki
supaya saya juga hepi

About

read, and you will know